Batavia Air Pailit: Gimana Nasib Tiket Jalan-Jalan Kantor?

Batavia Air Pailit: Gimana Nasib Tiket Jalan-Jalan Kantor?

Tahun 2013, saya masih kerja di kantor lama dan waktu itu saya sering merangkap sebagai panitia jalan-jalan. Entah gimana, mungkin karena saya punya hobi aneh, yaitu suka ngebanding-bandingin harga tiket pesawat, jadi aja secara gak resmi saya bertanggung jawab untuk ngurusin jalan-jalan tim ke Bali di bulan Maret 2013.

Tentunya dengan didaulat menjadi ketua perjalanan secara engga resmi, saya engga mau mengecewakan temen-temen saya yang udah keburu ngebayang-bayangin jalan-jalan ke Bali.

Akhirnya 9 bulan sebelum berangkat, saya udah searching tiket termurah dengan jam paling pas untuk kita ber-10 (boleh ngajak anak atau keluarga, eh malah temen saya ngajak pacarnya sekalian, hihi). Niatnya cari dari jauh-jauh hari, selain biar murah, juga supaya kita-kita bisa nabung dulu sebelum berangkat.

OK deh, akhirnya saya berusaha untuk cari tiket yang paling murah dan untuk itu, terpaksa pulang pergi Jakarta Denpasar dengan pesawat yang berbeda. Kita ber-8 berangkat menggunakan pesawat Air Asia dan 2 bos saya berangkat dengan Garuda Indonesia. Sementara untuk tiket pulang, saya pesan dan bayar tiket, langsung ber-10 menggunakan Batavia Air.

Polos banget saya waktu pesen tiket Batavia Air waktu itu. Mana ada kepikiran kalo bentar lagi ini maskapai bakal out dari bisnis. Yang ada malah kepikiran, kalo ini pesawat kenapa-kenapa, seruangan bisa kosong nih. Hii, Naudzubillahmindzalik.

♦ Shock di Angkot ♦

3 bulan sebelum berangkat, semuanya sudah siap. Hotel, mobil, itinerary dan tentu saja tiket seperti yang sudah saya jelaskan tadi. Lega dong. Pokoknya anggota jalan-jalan ini tinggal ngumpulin uang 3 bulan lagi buat jajan di Bali sana.

Hari itu hari yang cerah dan saya engga nyangka kalo akan ada sesuatu yang mengejutkan saya sore nanti di angkot dalam perjalanan pulang ke rumah.

Seperti biasa supaya engga garing, saya baca-baca berita di Blackberry saya sepanjang perjalanan kantor – rumah. Terus tiba-tiba saya baca headline berita: Batavia Air Pailit. “Eh”, pikir saya, “kasian amat nih penumpang yang udah beli tiketnya. Untung bukan gw. Fiuh..”

“Eh, bentar deh. BENER KAN GW GAK PESEN TIKET BATAVIA AIR TEMPO HARI?!”. Buru-buru saya cek email e-ticket dan, tara…. Saya menemukan 2 e-ticket Batavia Air dengan total 10 orang penumpang.

Lemes seketika sambil mikirin gimana nasib saya dan temen-temen saya, masa kita harus beli tiket lagi sih? Kalo cuma saya seorang yang rugi sih, masih engga papa deh beli tiket lagi. Ini gara-gara saya beli tiket Batavia Air demi murah, temen-temen termasuk bos saya jadi korbannya. Duh, saya engga enak hati banget dan berniat untuk nyelesain masalah ini tanpa merugikan mereka.

♦ Rencana Penyelamatan Tiket Batavia Air Rute DPS-JKT ♦

Malemnya saya masih kepikiran banget dan akhirnya saya menyusun rencana untuk seengganya itu duit tiket bisa balik. Ini dia rencananya:

1. Pantau Situs Berita Untuk Mengetahui Perkembangan Terakhir

Kantor Batavia Air tutup, telpon ga bisa dihubungi, dan saya gak punya siapapun kenalan yang bisa ditanya mengenai gimana nasib para pemegang tiket Batavia Air. Akhirnya saya bener-bener ga punya pilihan selain mengikuti perkembangan melalui situs-situs berita.

Saya terus-terusan refresh aplikasi berita di Blackberry untuk dapet berita terbaru dan yang ada saya semakin was-was dari hari ke hari. Karena beritanya gak pernah memberikan titik cerah untuk proses refund, sementara keberangkatan kita sekantor tinggal kurang lebih 2 bulan lagi.

batavia air news

Dari berita-berita yang dikeluarkan saya tau kalau akhirnya Batavia Air bener-bener berhenti beroperasi. Banyak penumpang yang sudah membeli tiket terlantar di Bandara, lantaran udah gak ada aktivitas sama sekali yang mengatas namakan Batavia Air. Ilang aja gitu, pooooof. Jangankan penumpang, pegawainya aja pada bingung dan bertanya-tanya mengenai kelanjutan nasib mereka ke manajemen Batavia Air.

2. Daftarkan Nama ke Kurator

Emang ada sih situs terpercaya yang menginformasikan cara refund tiket Batavia Air, tapi menurut saya gak realistis banget dan ngawang-ngawang. Walaupun secara teori betul, tapi kayanya engga bisa deh kita lakukan. Soalnya, mengingat Batavia Air pailit, jadi aset-aset mereka diurus oleh kurator. Dan oleh situs berita tersebut tertulis bahwa pemilik tiket harus melaporkan nama mereka ke kurator yang ditunjuk oleh pengadilan, untuk kemudian mendapatkan hak refund setelah… kurator menjual aset yang dimiliki oleh Batavia Air.

Itu pun, kalau gak salah, penumpang dapat giliran paling akhir setelah kreditur dan karyawan. Itu pun kalo asetnya masih ada. Itu pun kalo asetnya ada yang mau beli. Itu pun kalau engga ada penyusutan nilai aset. Halah, intinya, daftarin nama kita sebagai pemegang tiket pada akhirnya saya coret dari rencana!

batavia air news 2.JPG

Untung aja saya coret dan gak nungguin kurator itu. Kalo engga saya bakal ngerasain yang namanya PHP level institusi. Soalnya, terakhir saya baca berita (kalau ga salah tahun 2015/2016, lupa), aset-aset Batavia terlambat dijual dan mengakibatkan penurunan nilai aset tersebut. Salah satu contohnya adalah alat simulator pilot yang tadinya bernilai milyaran, tapi karena gak kejual-jual, gak digunakan, didiemin gitu aja, sekarang jadi seharga besi rongsok aja gitu. Berapa ya harga besi rongsok?

3. Datengin Kantor Batavia Air

Setelah beberapa hari engga ada titik terang, saya melakukan usaha yang putus asa banget. Berharap mendapat kejelasan dengan mendatangi kantor Batavia Air di Jalan Ir Djuanda, Jakarta Pusat seperti layaknya penumpang-penumpang lain yang sama putus asanya sama saya.

Waktu itu saya lagi ada urusan kantor di Jalan Gadjah Mada, jadi sekalian aja mampir di kantor Batavia Air yang sebenernya sering saya lewatin itu.

Sesampainya saya di sana, saya menemukan hal yang sebenernya udah saya prediksi sebelumnya. Gak ada aktivitas yang saya harapkan di kantor tersebut. Bahkan, gak ada aktivitas sama sekali. Gerbang digembok, pintu di tutup dan kaca gedung terlihat gelap.

Tadinya sih saya masih berbaik sangka, mungkin Batavia Air mengutus beberapa karyawannya di kantor tersebut untuk bantu refund tiket. Atau mungkin dia buka begitu aja kantornya dan ngebebasin siapa aja untuk ngambil apa aja yang sekiranya senilai dengan harga tiket (haha ya kali).

Saya bertemu dengan beberapa orang yang berdiri di depan kantor Batavia Air dan saya coba ngajak mereka ngobrol. Ternyata mereka adalah orang-orang yang punya usaha travel dan punya deposit di Batavia Air.

batavia air news 3.jpg
Ruko kantor Batavia Air di Kemayoran. Sumber: Tribun News

Mendengar berita bahwa Batavia Air bankrut, tentunya mereka was-was, karena jumlah dana yang menjadi deposit bisa mencapai belasan juta rupiah. Karena mereka gak bisa dapat penjelasan dari manapun, maka mereka mendatangi kantor itu sebagai usaha putus asa, sama seperti saya. Yang sayangnya, kita gak bisa dapat kejelasan apapun juga dengan mendatangi kantor gelap gulita kaya gitu.

Tapi hal ini cukup membuat saya bersyukur karena sebenarnya kerugian saya masih mending daripada kerugian mereka. Walaupun saya masih tetep ga enak kalo temen-temen saya mesti beli tiket lagi. Hadddoooohh gimana ini? Sudah semminggu kok belum ada juga titik terang.

Saya masih tetap mengikuti berita, tapi sama sekali gak ada jalan keluar nyata yang bisa dilakukan. Semua masih berkisar di teori daftar ke kurator dan berita bahwa si inilah mau jadi investor, si lembaga itulah mau bela hak konsumen, maspakai inilah mau nampung, dan lainnya yang sama belum pastinya.

♦ Kemungkinan Itu Berwarna Hijau ♦

Hayoo.. Kira-kira siapakah penyelamat itu? Beberapa hari setelah Batavia Air diputuskan pailit, beberapa maspakai penerbangan seperti Garuda Indonesia dan Mandala, memang diberitakan mengincar rute yang ditinggalkan oleh Batavia Air. Namun, khusus untuk Mandala, saya cermati rute-rute yang diambil alih oleh mereka, gak termasuk Denpasar-Jakarta.

Waduh, berarti masih belum ada titik terang mengenai tiket Batavia Air kita nih. Eh, setelah selang beberapa hari, tiba-tiba ada berita bahwa Citilink juga akan mengambil alih rute yang ditinggalkan oleh Batavia Air. Pada saat itu kementrian perhubungan mengizinkan maksud Citilink dan Mandala, namun dengan syarat, mereka harus menerbangkan pemegang tiket Batavia Air yang nasibnya masih gantung pada saat itu.

Setelah saya baca persyaratannya, hati saya berasa seneng banget, kaya dikasi duit, padahal itu duit saya sendiri kan, hahaha. Beberapa persyaratannya yaitu, harus membawa tiket Batavia Air untuk kemudian divalidasi, membawa tanda pengenal asli seperti KTP, harus diwakili oleh diri sendiri dan apabila namanya tercantum dalam satu tiket, berarti dapat diwakilkan oleh salah satu orang yang namanya tercantum dalam tiket tersebut.

citilink pesawat
Sumber: Web resmi Citilink

Adapun untuk proses pengeluaran tiket Citilink yang baru, kita harus datang ke kantor Citilink. Gak bisa diurus lewat web, telpon, apalagi lewat surat (emang jaman kapan).

Gak pake tunggu lama, saya langsung kumpulin semua data temen-temen untuk dibawa ke kantor Citilink dan ngajak Vina sebagai perwakilan di e-ticket yang satu lagi. Sesampainya di sana, ternyata sudah ada beberapa orang dengan niat yang sama dengan saya. Wah, senangnya, saya pikir masalah ini sebentar lagi akan selesai.

Ternyata, setelah saya datang ke counter, petugas tersebut bilang, “wah, Bu. Ini sih gak bisa kita proses”. Saya dengernya cuma melongo sambil bilang mampos gw, dalam hati tentunya. “Tiket ini kan dari Denpasar ke Jakarta, berarti Ibu harus menukarkan tiket ini di kantor Citilink Denpasar”. Kemudian hening.

Udah gitu, ternyata penukaran tiket ada batas waktunya dan batas waktunya kalo ga salah jauh sebelum keberangkatan jalan-jalan kita ke Bali.

Apakah ini saatnya saya ke Bali hanya untuk refund tiket 10 orang ini? Ujar saya dalam hati. Apakah ini harga yang harus saya bayar akibat over inisiatif beli tiket dari dari jauh-jauh hari? kenapa gak sekalian aja saya beli tiket sekarang, jalan-jalannya 1256 taun lagi?  masih saya tanya dalam hati.

“Berita buruk, Vin”, kata saya ke Vina. “Nukerin tiket ini mesti dari kantor Citilink yang di Denpasar. Apa gue aja ya, yang ke Denpasar buat nukerin ini tiket Batavia Air?” saran saya sambil ngarep.

Harapan saya sih, si Vina jawab iya. Eh, tapinya dia punya ide yang lebih cemerlang. “Cut! Bu Andin kan minggu depan rakor di Bali!”. Dengernya saya antara seneng ga seneng sih itu, haha. Tapi banyakan senengnya sih. Iyalah, akhirnya ada kemungkinan paling masuk akal juga, supaya tiket Batavia Air ini engga hangus.

Setelah bicara ke Bu Andin mengenai rencana penukaran tiket di kantor Citilink Denpasar, yang untungnya, terletak di Bandara Ngurah Rai, akhirnya Bu Andin setuju untuk bantu. Ya, soalnya nama dia juga ada di tiket itu sih, kan dia ikut jalan-jalan juga sama kita, hehehe.

♦ Berhasilkah Bu Andin Menukarkan Tiket? ♦

Sebelum keberangkatan Bu Andin ke Bali bareng dengan manajer-manajer lainnya, saya sudah mempersiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Pokoknya gak boleh ada yang ketinggalan karena ini satu-satunya kesempatan kita.

Sebenernya sih ada satu masalah lagi nih, karena kita banyakan, waktu beli tiket saya terpaksa beli 2 kali. Jadi yang harus ditukarkan itu ada 2 booking number. Sementara persyaratan dari Citilink, pada setiap tiket harus ada perwakilan yang datang ke kantor, minimal 1 orang. Makanya waktu ke kantor Citilink di Jakarta, saya ajak Vina. Karena nama Vina terdaftar di e-ticket yang satu lagi.

Tiket yang ini gak masalah karena nama Bu Andin ada di dalamnya.

batavia air tiket 1

Sementara tiket yang ini, kayanya sulit untuk bener-bener bisa diwakilkan oleh salah satu nama yang tertera di dalam tiket.

batavia air tiket 2

Akhirnya setelah mikir-mikir, Bu Andin bilang dia bakal ngajakin Bu Sari untuk pura-pura jadi penumpang di tiket yang satunya. Deg-degan juga sih, gimana kalau ketauan dan pada akhirnya ini tiket jadi gak bisa dituker. Haduh, gak bisa tenang banget ini rasanya.

Pada hari H, ini berdasarkan cerita dari Bu Andin yah. Bu Andin berangkat ke Bandara menggunakan bis Damri. Dan karena takut dokumen yang dibutuhkan untuk penukaran tiket lecek, akhirnya dokumen tersebut (yang di dalamnya ada KTP asli dan akte kelahiran asli) ditaruh di bagasi yang letaknya di atas.

Waktu taruh dokumen tersebut di atas, katanya Bu Andin sempet mikir, gimana ya kalo dokumen ini ketinggalan. Eh, bener dong! Pas Bu Andin turun dari Damri, dokumennya ketinggalan! Kebayang gimana paniknya Bu Andin saat itu, apalagi dia tau itu map isinya banyak tanda pengenal asli! Kayanya sih dia langsung heboh di terminal kedatangan. Udahnya tiket gak bisa diaktifin lagi pakai Citilink, hilang pula dokumen-dokumen penting anak buahnya dia. Gimana Bu Andin gak heboh.

Untungnya, pada saat itu ada Bapak-Bapak yang bersedia nemenin Bu Andin ngejar itu bis Damri pake mobilnya (kalo ga salah sih, cerita Bu Andin, dia sampe bener-bener ngejar itu bis Damri sampe ngos-ngosan, tapi tetep ga kekejar. Ya iyalah hehe). Dicari-cari deh itu bis Damri sama Bu Andin dan Bapak tersebut yang kayanya emang kerja di Bandara.

Setelah dicari-cari, Bis Damrinya ketemu di pool! Dan…. dokumennya masih ada! Alhamdulillah. Lega dan berterimakasih banget Bu Andin dan kita ke Bapak-Bapak yang nolongin itu.

Eit, belum selesai sampai di situ, Bu Andin udah telat! Dia harus buru-buru balik lagi ke terminal untuk ngejar penerbangan ke Denpasar. Dan untungnya, berhasil.

Sesampainya di Denpasar, dia akhirnya beneran nyeret Bu Sari supaya tiket yang satunya bisa dituker. Ternyata kekhawatiran saya gak terbukti loh! Tanpa banyak tanya, petugas Citilink langsung menukar tiket Batavia Air itu ke tiket Citilink, dan fix! Kita jadi jalan-jalan ke Bali… dengan tiket pulang sudah di tangan!

bali cimb.jpg
Tim yang hampir aja bayar tiket pulang 2 kali

Alhamdulillah, kita bisa berpose bersama di Uluwatu seperti foto di atas dan pulang dengan selamat pakai Citilink. Bye bye Batavia Air dan terimakasih Citilink.

♦ Lessons To Be Learned ♦

Dari kejadian Batavia Air yang pailit, ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran:

  1. Jadi anak kaga usah kerajinan, pesen tiket dari 1 tahun sebelum jalan-jalan.
  2. Kalo jalan-jalan ramean sama temen-temen kantor, mending pake travel agent aja deh, biar kita gak ribet dan gak makan waktu kerja untuk ngurusin jalan-jalan (eh tapi saya mah hobi, hehe)
  3. Shit happens. Maksudnya, biar gimanapun rapihnya kita menyiapkan sesuatu, tetap ada hal-hal di luar kuasa kita yang bisa terjadi. Contohnya ya kayak gini. Walaupun saya bilang ga usah kerajinan pesen tiket dari jauh-jauh hari. Toh kalaupun saya pesan 1 hari sebelum pailit, saya juga gak tau. Jadi gak usah nyalahin diri sendiri.

♦♦♦♦♦♦

Sungguh pengalaman yang bikin deg-degan, soalnya ini berkaitan dengan temen-temen saya yang bisa rugi karena saya beli tiket Batavia Air. Untungnya, masalah ini selesai dengan indah, berkat bantuan dan dukungan temen-temen juga sih. Kalo Vina gak ngasih ide di depan kantor Citilink, mungkin saya nekad juga ke Bali jalan kaki demi nukerin tiket 😀

puluhan-bangkai-pesawat-batavia-air-dibiarkan-begitu-saja_20150623_235232
Bangkai pesawat di bekas hangar Batavia Air. Sumber foto: Kaltim Tribun News

Semoga gak ada lagi maskapai penerbangan di Indonesia yang berakhir seperti Batavia Air. Teronggok di pojokan Bandara, dianggap menganggu estetika dan mengurangi penggunaan ruang, hingga akhirnya berakhir sebagai bangkai yang didiami ular.

Sumber: merdeka.com – detik.com

Iklan

4 tanggapan untuk “Batavia Air Pailit: Gimana Nasib Tiket Jalan-Jalan Kantor?

  1. seru banget tulisannya mba jadi ikut deg-deg-an bacanya alhamdulillah happy ending ya hihi. Banyak dapat hikmah juga, padahal saya juga termasuk tipe yang beli jauh-jauh-hari-supaya-dapat-tiket-murah 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s