Welcoming Cemong into This Family!

Welcoming Cemong into This Family!

Beberapa bulan lalu di Siang hari yang mengantuk di suatu pojokan Starbucks di Bandara Achmad Yani, Semarang… Tiba-tiba adik saya yang paling kecil ngirimin saya foto lewat BBM. Foto pamer dia sedang gendong seekor kucing. “Cih, belagu” dalam hati saya.

“Kucing siapa tuh?” tanya saya ke adik. “Kucing temen. Makanya sini buruan pulang” jawab adik saya.

Wah, saya curiga. Masa sih sekarang kita dibolehin piara kucing di rumah? Saya kan udah seminggu engga pulang ke rumah, jadi emang kurang update sama siapa aja yang tiba-tiba didapuk jadi anggota keluarga kita (kaya sering aja). Lagian, kesempatan buat adik saya untuk piara kucing di rumah itu kurang dari NOL! Iya, pada saat itu saya yakin banget kurang dari NOL! Secara, Father and Mother saya benci banget sama kucing. Walaupun mengenai Mother, saya tau itu hanya di bibir dia aja.

Kenapa saya bisa bilang kesempatannya kurang dari NOL? Ada sejarah panjang dan menyakitkan dibalik perkiraan saya itu. Saya bisa dibilang punya satu hobi yang cukup aneh, yaitu mungut kucing dari jalanan dan waktu sampe rumah saya ngakunya kucing itu yang ngikutin saya dari sekolah (jadi kucing itu ngikutin saya nyebrang jalan, naik angkot, jalan dari depan komplek sampe rumah, ceritanya gitu).

?????????????
Kira-kira seperti ini

Waktu itu saya pikir alesan dan kebohongan saya itu udah meyakinkan banget dan saya merasa pinter banget bisa bilang kaya gitu ke orang tua saya. Yah, tapi ternyata sering ketauan boong. Jadi yaudah saya ganti alesan. Seringkali saya umpetin kucing yang saya pungut di kolong bangku dan ketika ortu saya lagi nonton TV, mereka kaget karena ada anak kucing dekil dan belekan keluar dari kolong bangku. Lalu dengan bijak saya bilang, “mungkin dia dikirim oleh Tuhan untuk jadi bagian keluarga kita!”. Dan seperti biasa, anak kucing itu berakhir dengan disepak keluar rumah oleh my Father.

Nah, kali ini ketika adik saya kirim foto seekor kucing persia di rumah, rasanya terlalu indah untuk jadi kenyataan. Saya jadi gak tenang selama di pesawat. Bukan karena kucing itu sih, tapi karena emang saya takut naik pesawat *sigh.

Sesampainya saya di rumah, ternyata memang ada kucing di rumah saya! Aaaa… aaaa… aaaa…. apakah ini nyata? Tiba-tiba soundtrack berubah menjadi -is this the real life? is this just fantasy-nya Queen. Dan pokoknya semua terjadi begitu aja, Ketika saya sampe di rumah, cemong udah fix jadi anggota keluarga kita. Kok bisa?? Entahlah, memang semua terasa berbeda kalau ADIK saya yang minta ke ortu. Jadi pengen nyuruh adek saya minta UFO ke ortu, rasanya saya pengen jalan-jalan ke Mars -_-

Cemong’s Background

Waktu sampai di rumah, ternyata Cemong adalah kucing yang tak pernah diberi nama walaupun katanya umurnya sudah 1 tahun. Sempat terjadi perdebatan dan sampai kurang lebih 1 minggu, kita belum mencapai kata sepakat dalam menamai si Cemong. Beberapa pilihan sudah ada, salah satu contohnya adalah CINGBE yang merupakan singkatan dari Kucing Benga, nama ini pemberian dari adek-adek saya yang luar biasa kreatif. Nama Cingbe/Kucing Benga kurang disetujui oleh my mother, walaupun sampe sekarang adek saya masi suka manggil Cemong dengan sebutan Cingbe atau Cimbe. Akhirnya, karena bulu di sekitar mulutnya kaya pake bedak cemong-cemong, makanya kucing ini kita kasih nama Cemong!

Hai, namaku Cemong!

Alkisah, Cemong lahir di tengah keluarga kaya raya bekas menteri di Indonesia. Dia tumbuh dengan kurang perhatian di tengah banyaknya kucing yang keluarga tersebut pelihara. Ia jarang sekali dikeluarkan dari kandangnya. Hingga pada suatu hari ia diambil oleh temennya adik saya dan dipiara di kosannya. Nasib Cemong tidak banyak berubah di keluarga kecilnya yang baru. Ia jarang dikeluarkan dari kandangnya dan sering gigit-gigit besi kandangnya sampe giginya patah. Sampai suatu hari adik saya datang menginap di kosannya dan bersedia untuk mengadopsi Cemong.

Seorang bapak-bapak yang suka nyepak kucing yang saya pungut mengantar adik saya untuk ngambil kucing persia tersebut dari temennya (haha maksudnya itu my fatherrrr..).

Keseharian Cemong

Cemong adalah seekor kucing yang biasa-biasa aja. Engga laper dia biasa aja, laper juga biasa aja. Dia emang kucingnya engga pernah berlebihan. Dia gak kaya kucing-kucing lain yang hidup untuk makan dan gak bisa diem ketika liat majikannya makan (dulu adik saya pernah tarik-tarikan ayam goreng sama Kipli, kucing piaraan kita yang dulu). Cemong tuh seakan-akan gak pernah laper. Kalo dikasih makan dia selalu makan dengan anggun dan biasa aja engga kalap kaya kucing-kucing kebanyakan. Songongnya lagi, kalo yang ngasi makan ninggalin dia, dia juga berenti makan. Lah, terus? Jadi dia kalo makan mesti ditungguin sama orang. Soalnya kalo orangnya pergi dia juga ngikutin pergi. Ih, dasar kucing FREAK!

20150710_122916-1223
Ini kalau aku bisa berbicara dan berpendapat

Kalau dimandiin, cemong juga tidak seperti kucing pada umumnya yang akan ngamuk seakan-akan dunia akan berakhir pada waktu air kena mukanya. Cemong cuma diem aja. Santai, rileks dan dia menikmati setiap tetes air hangat dan sampo yang mengalir di kulitnya.

Cemong juga adalah kucing yang bersih dan sangat tidak suka tempat ee yang kotor. Ia pernah menunjukkan ketidaksetujuannya akan WC kucing yang penuh, kotor dan belum dibersihkan dengan beol sembarangan di keset dan di bawah meja. Wah, minta banget diusir dari rumah ni si Cemong.

Cemong juga sepertinya pernah mempunyai pacar yang dia rahasiakan dari keluarga kita. Mungkin karena pacar dia, yang biasa saya panggil si Olen, adalah kucing kampung korengan yang biasa mondar-mandir di depan rumah. Kalau tukang sayur lagi mangkal. Sekarang sih kayanya mereka udah putus. Mungkin karena Cemong udah sadar, Oleh nongkrong depan rumah karena tukang sayur, bukan karena nungguin Cemong.

Kelakuan Cemong pas jatuh cinta sempet buat kita sekeluarga was-was, soalnya Cemong pengen kabur dari rumah melulu dan kita yakin dengan otaknya, cemong engga akan bisa pulang ke rumah sendiri. Sepertinya sih emang dia engga pernah menganggap ini adalah rumahnya. Beberapa kali Cemong pernah kabur dari rumah dan ditemukan lagi dikelilingi oleh kucing-kucing kampung cowo. Idihhh kalo kalian manusia pasti udah diarak warga keliling kampung tuh.

20150710_122915---
Hai~~ Aku Princess Cemong idola kucing kampung~~

Begitulah, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, sekarang Cemong resmi jadi bagian keluarga kita!

Iklan

Satu tanggapan untuk “Welcoming Cemong into This Family!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s